Langsung ke konten utama

Banyak Nawacita Yang Belum Terrealisasi, PDIP Salahkan Birokrasi

Banyak Nawacita Yang Belum Terrealisasi, PDIP Salahkan Birokrasi
berliannews - Anggota Fraksi PDI Perjuangan Hendrawan Supratikno mengakui bahwa dalam tiga tahun pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) masih banyak janji-janji Nawacita yang belum tercapai.

Namun, dia tidak menyalahkan Jokowi-JK. Menurutnya, hal itu terjadi karena masalah struktural.

Hendrawan yang juga anggota Komisi VI DPR memastikan bahwa langkah Jokowi-JK dalam mewujudkan janji-janji yang diucapkan pada kampanye Pilpres 2014 masih berada di jalur yang tepat. Sebagian dari janji-janji Nawacita juga sudah tercapai.

"(Langkah Jokowi-JK) pada jalur yang tepat. Capaian realisasinya memang baru sekitar 60-65 persen," katanya di jakarta, Selasa (7/11).

Menurut Hendrawan, masih belum tuntasnya pemenuhan janji-janji itu karena ada beberapa persoalan yang mengadang. Persoalan itu sudah turun-temurun alias struktural. Butuh waktu agak lama untuk membenahinya. Persoalan tersebut mulai dari birokrasi sampai nilai ekspor yang kecil, karena barang yang dikirim ke luar negeri tak memiliki nilai tambah besar.

"Persoalan struktural seperti birokrasi yang belum efisien, kesenjangan produktivitas antar sektor, ketergantungan pada luar negeri, ekspor yang didominasi komoditas bernilai tambah rendah, kepemilikan lahan pertanian yang timpang, dan lainnya," bebernya.

Meski demikian, dia memastikan bahwa sejumlah indikator ekonomi telah menunjukkan perbaikan. Indikator tersebut antara lain posisi daya saing yang terus meningkat, indeks kemudahan berbisnis yang terus membaik, dan perbaikan infrastruktur. Dia pun berharap, program akselerasi terus dilakukan, utamanya program-program produktif yang dapat memicu peningkatan daya beli masyarakat.

"Koordinasi dan sinergi lintas sektoral harus diperkuat. Paket-paket deregulasi yang sudah dibuat yang ada 16 paket harus tetap dimonitor implementasinya. Efisiensi ekonomi harus ditingkatkan," pesan Hendrawan.

Soal penurunan daya beli masyarakat yang banyak diungkap kalangan partai oposisi, Hendrawan tidak membantah. Terlebih, ada laporan Badan Pusat Statistik yang mengungkapkan adanya pelemahan daya beli pada masyarakat. Namun, dia menganggap hal tersebut tidak serta merta menunjukkan kemampuan ekonomi masyarakat turun. Penurunan daya beli itu terjadi lantaran ada beberapa item baru yang membuat alokasi belanja di masyarakat berubah, yakni pengeluaran untuk pulsa dan penggunaan teknologi baru seperti ATM dan m-banking.

"Di kelas menengah ada tren belanja untuk edukasi, kesehatan, dan wisata. Sementara di pedesaan nilai tukar petani hanya naik tipis. Artinya, produk-produk pertanian atau agro belum memiliki nilai tambah yang besar," katanya.

Terhadap angka pengangguran yang meningkat, seperti yang dilaporkan BPS, Hendrawan menganggap sebagai hal biasa. Angka itu terjadi cuma karena siklus. Sebab, survei dilakukan saat sedang terjadi musim paceklik.

Saat musim panen tiba, angka tersebut akan berubah dan pengangguran akan berkurang. Saat musim panen akan banyak lapangan kerja baru tercipta. Namun begitu, dia memastikan akan tetap meminta Jokowi-JK mengantisipasi.[berliannews.net/bi24]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Acara E-Talk Shouw tvOne, Anies Baswedan : Alexis Beres, Reklamasi Tunggu Kejutannya

Di Acara E-Talk Shouw tvOne, Anies Baswedan : Alexis Beres, Reklamasi Tunggu Kejutannya  berliannews - Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan menjadi perhatian publik luas setelah gebrakannya menutup Alexis yang gubernur-gubernur sebelumnya tak bisa. Kejutan Anies menutup Alexis ini akan berlanjut dengan kejutan berikutnya menghentikan Reklamasi. Hal ini disampaikan Anies saat bincang-bincang di acara E-TALK SHOW di tvOne pada Jum'at (3/11/2017). Host tvOne: "Anies tidak melanjutkan izin Alexis. Banyak loh Pak yang sebelumnya pesimis 'gak mungkin Anies bisa menutup Alexis'. Tapi ternyata terealisasi." Anies: "Memang tugas kita seringkali adalah mengecewakan mereka yang pesimis. Bagi yang pesimis kecewa tuh lihat penutupan Alexis." (tepuk tangan penonton pun membahana). Host tvOne: "Apa gak takut dengan 'Orang Besar' yang membekingi?" Anies: "Orang-orang besar adalah orang-orang yang melakukan hal-hal baik dan bes...

Galau karena Percintaan Bukan, Rina Nose Mengaku Lepas Jilbab Tanpa.....

Galau karena Percintaan Bukan, Rina Nose Mengaku Lepas Jilbab Tanpa..... berliannews - Kurang dari dua puluh empat jam nama presenter kocak Rina Nose menjadi trending topik Twitter. Bahkan di satu unggahan foto Instagram milik Rina telah memperoleh komentar lebih dari 80 ribu komentar. Ya, Rina Nose menjadi sorotan netizen karena keputusannya kembali untuk tidak mengenakan hijab menjadi viral. Hal ini pada mulanya ia kabarkan melalui unggahan Instagram, Kamis (9/11/2017). Selanjutnya kabar ini semakin terbukti dengan tampilnya Rina dalam salah satu acara kontes dangdut di salah satu stasiun TV. Rina terlihat tidak mengenakan hijabnya lagi. Dalam unggahan Instagram, Rina menjelaskan perubahan tersebut ia lakukan pasca mengalami peristiwa dan pemikiran yang panjang dan berubah. Ia juga menjelaskan kalau ketetapan hatinya berubah seiring pengalaman batin. Rina juga meminta agar kekecewaan orang-orang lantaran keputusannya melepas hijab tidak menjadi...

Kata Mereka Penjajah Disebut "Radikal - Muslim Fanatik", Tapi Bagi Bangsa Indonesia Merekalah Adalah "Pahlawan"

Kata Mereka Penjajah Disebut "Radikal - Muslim Fanatik", Tapi Bagi Bangsa Indonesia Merekalah Adalah "Pahlawan" berliannews - Para pejuang kemerdekaan Indonesia oleh PENJAJAH mereka dicap dengan sebutan "RADIKAL". Karena mereka berani melawan PENJAJAHAN. Tak seperti golongan lain yang "santun", manut, dan nrimo bahkan mau bekerjasama dengan KOLONIAL. Tapi kaum "RADIKAL" inilah adalah PAHLAWAN bangsa Indonesia yang mengusir penjajah dari tanah air tercinta. Begitu juga saat mempertahankan Kemerdekaan Indonesia yang hendak dijajah kembali oleh Belanda yang dikenal dengan Agresi Militer. Mereka yang MELAWAN dengan kekuatan seadanya namun YAKIN dengan PERTOLONGAN ALLAH, oleh kaum Penjajah kelompok ini dicap "MUSLIM FANATIK". Hari ini, 72 tahun lalu... Perlawanan dan pertempuran heroik di Surabaya 10 November 1945 dengan pekikan TAKBIR yang dipimpin Bung Tomo, oleh media barat dicap “Muslim Fanatics”. Demi...