Langsung ke konten utama

Polri Menduga Ada Aroma Kolusi, Korupsi dan Nepotisme dalam Proyek Reklamasi

Polri Menduga Ada Aroma Kolusi, Korupsi dan Nepotisme dalam Proyek Reklamasi
berliannews - Tiga Pegawai Badan Pajak dan Retribusi Daerah (BPRD) DKI Jakarta dipanggil polisi sebagai saksi kasus proyek reklamasi Teluk Jakarta yang tengah diusut Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya.

Sebab berdasarkan hasil penyelidikan, ada indikasi penyelewengan dan kelalaian dalam penetapan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) Pulau C dan D dalam proyek reklamasi yang hanya berkisar Rp 3,1 juta permeter persegi.

Harga ini berbeda jauh dengan tempat lainnya misalnya Pulau H yang harga per meternya sekitar Rp 25 juta.

"Ada kemungkinan dari dua-duanya (pengembang dan Pemprov), kalau terjadi ada kolusi atau nepotisme," kata Kasubdit Sumdaling Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, AKBP Sutarmo kepada wartawan di kantornya, Rabu (8/11/2017).

Selain memeriksa tiga anggota BPRD Jakarta, Sutarmo mengklaim pihaknya sudah memeriksa sejumlah saksi yang berasal dari pihak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan BPN. Juga pemeriksaan terhadap Kementerian Kelautan dan Perikanan, masyarakat serta nelayan yang dilakukan sebelum kasus berstatus penyidikan.

"Itu proses penyelidikan pengumpulan fakta dan dokumen," ucap Sutarmo yang mengenakan kemeja putih ini.

Selain itu, Ditreskrimsus Polda Metro pun masih akan menggali keterangan perihal pengesahan NJOP dengan merujuk dari peraturan gubernur (Pergub) atau merujuk pada Kementrian Keuangan (Kemenkeu).

"Itu salah satu tafsir pemeriksaan yang akan ditanyakan, jadi nanti kami liat hasilnya sore," tandasnya.

Penyelidikan kasus ini dimulai sejak September 2017, dengan dasar adanya polemik di masyarakat soal reklamasi. Polisi sudah meminta data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Penyidik lantas meningkatkan status proses hukum proyek reklamasi Teluk Jakarta dari penyelidikan ke tahap penyidikan. Keputusan ini diambil setelah ditemukannya dugaan korupsi di proyek itu, saat dilakukan gelar perkara.

Polisi menduga ada pelanggaran ketika penetapan nilai jual objek pajak Pulau C dan D pada Reklamasi Teluk Jakarta. Diduga, penetapan NJOP pada pulau reklamasi itu tidak wajar lantaran harga per meternya hanya sekitar Rp 3,1 juta. [berliannews.net/bi24]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Acara E-Talk Shouw tvOne, Anies Baswedan : Alexis Beres, Reklamasi Tunggu Kejutannya

Di Acara E-Talk Shouw tvOne, Anies Baswedan : Alexis Beres, Reklamasi Tunggu Kejutannya  berliannews - Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan menjadi perhatian publik luas setelah gebrakannya menutup Alexis yang gubernur-gubernur sebelumnya tak bisa. Kejutan Anies menutup Alexis ini akan berlanjut dengan kejutan berikutnya menghentikan Reklamasi. Hal ini disampaikan Anies saat bincang-bincang di acara E-TALK SHOW di tvOne pada Jum'at (3/11/2017). Host tvOne: "Anies tidak melanjutkan izin Alexis. Banyak loh Pak yang sebelumnya pesimis 'gak mungkin Anies bisa menutup Alexis'. Tapi ternyata terealisasi." Anies: "Memang tugas kita seringkali adalah mengecewakan mereka yang pesimis. Bagi yang pesimis kecewa tuh lihat penutupan Alexis." (tepuk tangan penonton pun membahana). Host tvOne: "Apa gak takut dengan 'Orang Besar' yang membekingi?" Anies: "Orang-orang besar adalah orang-orang yang melakukan hal-hal baik dan bes...

Galau karena Percintaan Bukan, Rina Nose Mengaku Lepas Jilbab Tanpa.....

Galau karena Percintaan Bukan, Rina Nose Mengaku Lepas Jilbab Tanpa..... berliannews - Kurang dari dua puluh empat jam nama presenter kocak Rina Nose menjadi trending topik Twitter. Bahkan di satu unggahan foto Instagram milik Rina telah memperoleh komentar lebih dari 80 ribu komentar. Ya, Rina Nose menjadi sorotan netizen karena keputusannya kembali untuk tidak mengenakan hijab menjadi viral. Hal ini pada mulanya ia kabarkan melalui unggahan Instagram, Kamis (9/11/2017). Selanjutnya kabar ini semakin terbukti dengan tampilnya Rina dalam salah satu acara kontes dangdut di salah satu stasiun TV. Rina terlihat tidak mengenakan hijabnya lagi. Dalam unggahan Instagram, Rina menjelaskan perubahan tersebut ia lakukan pasca mengalami peristiwa dan pemikiran yang panjang dan berubah. Ia juga menjelaskan kalau ketetapan hatinya berubah seiring pengalaman batin. Rina juga meminta agar kekecewaan orang-orang lantaran keputusannya melepas hijab tidak menjadi...

Kata Mereka Penjajah Disebut "Radikal - Muslim Fanatik", Tapi Bagi Bangsa Indonesia Merekalah Adalah "Pahlawan"

Kata Mereka Penjajah Disebut "Radikal - Muslim Fanatik", Tapi Bagi Bangsa Indonesia Merekalah Adalah "Pahlawan" berliannews - Para pejuang kemerdekaan Indonesia oleh PENJAJAH mereka dicap dengan sebutan "RADIKAL". Karena mereka berani melawan PENJAJAHAN. Tak seperti golongan lain yang "santun", manut, dan nrimo bahkan mau bekerjasama dengan KOLONIAL. Tapi kaum "RADIKAL" inilah adalah PAHLAWAN bangsa Indonesia yang mengusir penjajah dari tanah air tercinta. Begitu juga saat mempertahankan Kemerdekaan Indonesia yang hendak dijajah kembali oleh Belanda yang dikenal dengan Agresi Militer. Mereka yang MELAWAN dengan kekuatan seadanya namun YAKIN dengan PERTOLONGAN ALLAH, oleh kaum Penjajah kelompok ini dicap "MUSLIM FANATIK". Hari ini, 72 tahun lalu... Perlawanan dan pertempuran heroik di Surabaya 10 November 1945 dengan pekikan TAKBIR yang dipimpin Bung Tomo, oleh media barat dicap “Muslim Fanatics”. Demi...