Langsung ke konten utama

Jokowi Melorot, Prabowo Dan Gerindra Terus Melejit Disusul Gatot

Jokowi Melorot, Prabowo Dan Gerindra Terus Melejit Disusul Gatot

berliannews - Partai Gerindra masih menempati posisi teratas yang dipilih dalam hasil survei Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI) jika Pemilu digelar hari ini.

Partai besutan Prabowo Subianto itu unggul dengan 20,7 persen, disusul Golkar 13,7 persen, PDI Perjuangan 13,4 persen, PKB 7,6 persen, Partai Demokrat 6,1 persen, PAN 5,8 persen, PPP 5,2 persen, PKS 4,5 persen. Berikutnya Perindo 4,3 persen, Nasdem 3,6 persen, Hanura 1,3 persen, dan tidak memilih sebanyak 13,8 persen.

Gerindra kembali unggul saat pertanyaan yang sama diberikan secara tertutup. Partai berlambang Garuda warna emas itu unggul dengan 23,7 persen, PDIP 14,2 persen, Golkar 14,1 persen, Partai Demokrat 6,8 persen, PAN 6,6 persen, PKB 6,4 persen, PKS 5,7 persen, Perindo 4,8 persen, PPP 3,4 persen, Nasdem 3,1 persen dan Hanura 1,1 persen. Sedangkan yang tidak menjawab atau tidak memilih sebanyak 10,1 persen.

Direktur Eksekutif LKPI, Arifin Nur Cahyono menjelaskan, meningkatnya pilihan masyarakat terhadap Partai Gerindra dalam survei ini tidak lepas dari figur Prabowo Subianto selaku nahkoda. Prabowo dianggap konsisten dengan sikap politiknya selama periode pemerintahan Joko Widodo-JK.

"Sekalipun menjadi oposisi juga bukan oposisi yang serta-merta tdak mendukung program-program pemerintah selama ini," bebernya melalui keterangan tertulis, Selasa (26/12).

Sementara, lanjut Arifin, menurunnya elektabilitas PDI Perjuangan lebih dikarenakan kegagalan pemerintahan Joko Widodo dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi wong cilik. Pasalnya, dahulu PDI Perjuangan saat menjadi oposisi sangat gigih menolak kebijakan kenaikan harga BBM, gas serta tarif dasar listrik. Bahkan kepala daerah dari PDIP sampai turun untuk menolak kenaikan harga BBM.

"Tetapi saat Joko Widodo berkuasa justru PDI Perjuangan menjadi partai pedukung kenaikan harga BBM. Turunnya elektabilitas partai-partai pendukung Joko Widodo selain Golkar tak lepas juga dari kesulitan ekonomi yang banyak dialami oleh para pemilih partai pendukung Joko Widodo dipemerintahannya," imbuhnya.

Lebih lanjut kata Arifin, LKPI kemudian menanyakan kepada responden soal siapakah tokoh yang mereka pilih jika Pilpres digelar hari ini secara spontan. Tak beda jauh dengan partai yang dipimpinnya, Prabowo Subianto menang telak. Dia dipilih 50,7 persen sekaligus mengalahkan petahana, Jokowi yang hanya 26,4 persen.

"Gatot Nurmantyo 10,7 persen, dan sisanya tidak menjawab 12,2 persen," tandas Arifin.

Saat pertanyaan yang sama dilakukan dengan menggunakan kuisioner, elektabilitas Prabowo malah tambah naik dengan 53,6 persen, Joko Widodo 19,4 persen, Gatot Nurmantyo 4,6 persen, Sri Mulyani 3,1 persen, Anies Baswedan 2,1 persen, Puan Maharani 2,8 persen, Tri Rismaharini 5,7 persen, Muhaimin Iskandar 2,1 persen, Agus Harimurti Yudhoyono 0,8 persen dan tidak memilih sebanyak 5,8 persen.

Hal menarik menurut dia saat pertanyaan yang sama diberikan secara tertutup. Di mana Tri Rismaharini yang notabene tokoh baru punya elektabilitas di atas tokoh lain selain Jokowi dan Prabowo dengan 5,7 persen.

"Bagi Joko Widodo yang elektabilitas melorot hingga 19,4 persen atau hanya tinggal 36,5 persen dari hasil Pilpres 2014 sebanyak 53.15 persen, sementara Prabowo Subianto memiliki tingkat elektabilitas di atas 50 persen plus 1, namun ini baru potret survei jelang Pemilu 2019 yang dikaitkan dengan kinerja Joko Widodo selama memerintah dan masih ada waktu satu tahun bagi Joko Widodo untuk bisa mengangkat elektabilitasnya jika berhasil meningkatkan kesejahteraan wong cilik," pungkasnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Acara E-Talk Shouw tvOne, Anies Baswedan : Alexis Beres, Reklamasi Tunggu Kejutannya

Di Acara E-Talk Shouw tvOne, Anies Baswedan : Alexis Beres, Reklamasi Tunggu Kejutannya  berliannews - Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan menjadi perhatian publik luas setelah gebrakannya menutup Alexis yang gubernur-gubernur sebelumnya tak bisa. Kejutan Anies menutup Alexis ini akan berlanjut dengan kejutan berikutnya menghentikan Reklamasi. Hal ini disampaikan Anies saat bincang-bincang di acara E-TALK SHOW di tvOne pada Jum'at (3/11/2017). Host tvOne: "Anies tidak melanjutkan izin Alexis. Banyak loh Pak yang sebelumnya pesimis 'gak mungkin Anies bisa menutup Alexis'. Tapi ternyata terealisasi." Anies: "Memang tugas kita seringkali adalah mengecewakan mereka yang pesimis. Bagi yang pesimis kecewa tuh lihat penutupan Alexis." (tepuk tangan penonton pun membahana). Host tvOne: "Apa gak takut dengan 'Orang Besar' yang membekingi?" Anies: "Orang-orang besar adalah orang-orang yang melakukan hal-hal baik dan bes...

Galau karena Percintaan Bukan, Rina Nose Mengaku Lepas Jilbab Tanpa.....

Galau karena Percintaan Bukan, Rina Nose Mengaku Lepas Jilbab Tanpa..... berliannews - Kurang dari dua puluh empat jam nama presenter kocak Rina Nose menjadi trending topik Twitter. Bahkan di satu unggahan foto Instagram milik Rina telah memperoleh komentar lebih dari 80 ribu komentar. Ya, Rina Nose menjadi sorotan netizen karena keputusannya kembali untuk tidak mengenakan hijab menjadi viral. Hal ini pada mulanya ia kabarkan melalui unggahan Instagram, Kamis (9/11/2017). Selanjutnya kabar ini semakin terbukti dengan tampilnya Rina dalam salah satu acara kontes dangdut di salah satu stasiun TV. Rina terlihat tidak mengenakan hijabnya lagi. Dalam unggahan Instagram, Rina menjelaskan perubahan tersebut ia lakukan pasca mengalami peristiwa dan pemikiran yang panjang dan berubah. Ia juga menjelaskan kalau ketetapan hatinya berubah seiring pengalaman batin. Rina juga meminta agar kekecewaan orang-orang lantaran keputusannya melepas hijab tidak menjadi...

Kata Mereka Penjajah Disebut "Radikal - Muslim Fanatik", Tapi Bagi Bangsa Indonesia Merekalah Adalah "Pahlawan"

Kata Mereka Penjajah Disebut "Radikal - Muslim Fanatik", Tapi Bagi Bangsa Indonesia Merekalah Adalah "Pahlawan" berliannews - Para pejuang kemerdekaan Indonesia oleh PENJAJAH mereka dicap dengan sebutan "RADIKAL". Karena mereka berani melawan PENJAJAHAN. Tak seperti golongan lain yang "santun", manut, dan nrimo bahkan mau bekerjasama dengan KOLONIAL. Tapi kaum "RADIKAL" inilah adalah PAHLAWAN bangsa Indonesia yang mengusir penjajah dari tanah air tercinta. Begitu juga saat mempertahankan Kemerdekaan Indonesia yang hendak dijajah kembali oleh Belanda yang dikenal dengan Agresi Militer. Mereka yang MELAWAN dengan kekuatan seadanya namun YAKIN dengan PERTOLONGAN ALLAH, oleh kaum Penjajah kelompok ini dicap "MUSLIM FANATIK". Hari ini, 72 tahun lalu... Perlawanan dan pertempuran heroik di Surabaya 10 November 1945 dengan pekikan TAKBIR yang dipimpin Bung Tomo, oleh media barat dicap “Muslim Fanatics”. Demi...