MURKA!! Walaupun Kalah Telak di PBB, Donal Trump Tetap Nekat Melakukan HAL Ini di Yerusalem
berliannews - Pemerintah Amerika Serikat mengalami kekalahan yang sangat telak dalam pemungutas suata (voting) Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang membahas tentang Yerusalem Palestina, kamis(21/12/2017).
74% atau 128 negara menyatakn menolak pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang akan menjadikan Yerusalem sebagai Ibukota Israel. Sementara yang mendukung hanya 5% atau 9 negara, sedangkan yang menyatakan abstain hanya 20% atau 35 negara.
Sementara Juru bicara Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Nabil Abu Rdainah, menyambut baik hasil pemungutan suara tersebut dan menyebutnya sebagai sebuah kemenangan. “Pemungutan suara adalah kemenangan bagi Palestina,” Ujar Nabil.
Namun demikian, pihaknya akan terus berjuang di PBB demi kemerdekaan dari penjajahan Israel. “Kami akan melanjutkan usaha kami di PBB dan di semua forum internasional untuk mengakhiri pendudukan ini dan untuk membangun negara Palestina, dengan Yerusalem timur sebagai ibukotanya,” papar dia.
Seperti diketahui bahwa sidang Majelis Umum PBB itu merupakan upaya lanjutan dari para penentang Trump terkait keputusannya yang pro-Israel.
Terjadinya voting dilakukan setelah sebelumnya di Dewan Keamanan PBB, pada Senin (18/12/2017), menemui jalan buntu. Pasalnya, AS menggunakan hak veto untuk menggagalkan resolusi Dewan Keamanan PBB yang digagas Mesir yang hendak menolak pengakuan Amerika Serikat atas Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.
Sebelumnya, Trump mengancam akan memotong bantuan keuangan ke negara-negara yang memberikan suara mendukung resolusi Majelis Umum PBB tersebut. Namun, ancamannya tak memberi dampak pada hasil di Majelis Umum PBB. Namun ancaman Trump tak memiliki efek signifikan bagi negara yang menolaknya.
Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk PBB Nikki Haley menyayangkan hasil pemungutan suara di Majelis Umum PBB yang menganulir diakuinya Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Ia menegaskan hasil voting tersebut tak akan menyurutkan rencana AS untuk memindahkan kedutaan besarnya di Israel ke Yerusalem.
Haley mengatakan keputusan untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel merupakan hak AS sebagai sebuah negara berdaulat. Oleh sebab itu, hasil pemungutan suara di Majelis Umum PBB tak akan mengubah apapun terkait pengakuan tersebut. Ia pun menegaskan AS akan tetap memindahkan kedutaan besarnya di Israel ke Yerusalem.
“AS akan menempatkan kedutaannya di Yerusalem. Inilah yang rakyat Amerika inginkan dan ini adalah hal yang benar untuk dilakukan. Tidak akan ada pemungutan suara di PBB yang akan membuat perbedaan mengenai hal itu,” ujar Haley, dikutip laman BBC.
Majelis Umum PBB, pada Kamis (21/12), telah menyetujui resolusi yang dengan tegas meminta AS menarik pengakuannya atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Resolusi ini disepakati 128 negara dan ditolak sembilan negara lainnya. Sedangkan 35 negara memilih abstain.
Salah satukalimat dalam resolusi tersebut berbunyi, “Setiap keputusan dan tindakan yang dimaksudkan untuk mengubah karakter, status, atau komposisi demografis Kota Suci Yerusalem, tidak memiliki efek hukum, tidak berlaku, dan harus dibatalkan sesuai dengan resolusi Dewan Keamanan (PBB) yang relevan.”
Pada awal Desember lalu, Presiden AS Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Hal ini memicu gelombang protes serta kecaman dari berbagai negara, terutama negara-negara Arab dan Muslim. Pengakuan Trump tersebut dinilai telah menabrak dan melanggar berbagai kesepakatan serta resolusi internasional terkait Yerusalem.

Komentar
Posting Komentar