Langsung ke konten utama

PM Turky Tiba di Bangladesh. "SANGAT KAGET" Saat Temui Pengungsi Rohingya

PM Turky Tiba di Bangladesh. "SANGAT KAGET" Saat Temui Pengungsi Rohingya

berliannews - Perdana Menteri Turki Binali Yildirim tiba di Distrik Cox’s Bazar, pada Rabu (20/12), dalam kunjungan resminya ke Bangladesh yang akan dilakukan selama dua hari. Yildirim akan mengunjungi kamp pengungsian Mainnerghona untuk bertemu dengan pengungsi Rohingya, sekitar 40 kilometer dari Cox’s Bazar.

Sementara di Cox’s Bazar, Yildirim akan mengunjungi Rumah Sakit Sahra yang sedang dibangun. Dia juga akan melihat lokasi pekerjaan konstruksi rumah sakit lapangan yang dibangun Turki di kamp pengungsian Balukhali.

Yildirim dijadwalkan untuk menghadiri upacara serah terima sumbangan dua ambulans dan kendaraan staf yang akan dikirim ke Rumah Sakit Sentral Cox’s Bazar. Acara ini diinisiasi oleh badan bantuan pemerintah Turki, yaitu Badan Kerjasama dan Koordinasi Turki (TIKA).

Selain TIKA, Otoritas Manajemen Bencana dan Darurat Turki (AFAD), Bulan Sabit Merah Turki, dan Direktorat Urusan Agama Turki juga memberikan bantuan kemanusiaan di wilayah tersebut.

Selama mengunjungi Bangladesh, Yildirim didampingi oleh Wakil Perdana Menteri Turki Bekir Bozdag, Menteri Kebijakan Keluarga dan Kebijakan Sosial Fatma Betul Sayan Kaya, dan pejabat Turki lainnya. Menteri Luar Negeri Bangladesh Abul Hassan Mahmud Ali juga mendampingi delegasi Turki tersebut.

Seperti dilansir dari Anadolu, sejak 25 Agustus, lebih dari 656 ribu warga Rohingya telah menyeberang dari Negara Bagian Rakhine di Myanmar ke Bangladesh. Para pengungsi tersebut melarikan diri dari operasi militer yang dilakukan pasukan keamanan Myanmar.

Rohingya digambarkan oleh PBB sebagai etnis minoritas yang paling teraniaya di dunia. Mereka telah menghadapi ketakutan atas serangan sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada 2012.

Menurut Dokter Lintas Batas, sedikitnya 9.000 warga Rohingya tewas di Negara Bagian Rakhine dari 25 Agustus sampai 24 September.

Dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada 12 Desember, organisasi kemanusiaan global tersebut mengatakan kematian 71,7 persen atau 6.700 warga Rohingya disebabkan oleh kekerasan, termasuk 730 anak di bawah usia lima tahun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Acara E-Talk Shouw tvOne, Anies Baswedan : Alexis Beres, Reklamasi Tunggu Kejutannya

Di Acara E-Talk Shouw tvOne, Anies Baswedan : Alexis Beres, Reklamasi Tunggu Kejutannya  berliannews - Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan menjadi perhatian publik luas setelah gebrakannya menutup Alexis yang gubernur-gubernur sebelumnya tak bisa. Kejutan Anies menutup Alexis ini akan berlanjut dengan kejutan berikutnya menghentikan Reklamasi. Hal ini disampaikan Anies saat bincang-bincang di acara E-TALK SHOW di tvOne pada Jum'at (3/11/2017). Host tvOne: "Anies tidak melanjutkan izin Alexis. Banyak loh Pak yang sebelumnya pesimis 'gak mungkin Anies bisa menutup Alexis'. Tapi ternyata terealisasi." Anies: "Memang tugas kita seringkali adalah mengecewakan mereka yang pesimis. Bagi yang pesimis kecewa tuh lihat penutupan Alexis." (tepuk tangan penonton pun membahana). Host tvOne: "Apa gak takut dengan 'Orang Besar' yang membekingi?" Anies: "Orang-orang besar adalah orang-orang yang melakukan hal-hal baik dan bes...

Galau karena Percintaan Bukan, Rina Nose Mengaku Lepas Jilbab Tanpa.....

Galau karena Percintaan Bukan, Rina Nose Mengaku Lepas Jilbab Tanpa..... berliannews - Kurang dari dua puluh empat jam nama presenter kocak Rina Nose menjadi trending topik Twitter. Bahkan di satu unggahan foto Instagram milik Rina telah memperoleh komentar lebih dari 80 ribu komentar. Ya, Rina Nose menjadi sorotan netizen karena keputusannya kembali untuk tidak mengenakan hijab menjadi viral. Hal ini pada mulanya ia kabarkan melalui unggahan Instagram, Kamis (9/11/2017). Selanjutnya kabar ini semakin terbukti dengan tampilnya Rina dalam salah satu acara kontes dangdut di salah satu stasiun TV. Rina terlihat tidak mengenakan hijabnya lagi. Dalam unggahan Instagram, Rina menjelaskan perubahan tersebut ia lakukan pasca mengalami peristiwa dan pemikiran yang panjang dan berubah. Ia juga menjelaskan kalau ketetapan hatinya berubah seiring pengalaman batin. Rina juga meminta agar kekecewaan orang-orang lantaran keputusannya melepas hijab tidak menjadi...

Kata Mereka Penjajah Disebut "Radikal - Muslim Fanatik", Tapi Bagi Bangsa Indonesia Merekalah Adalah "Pahlawan"

Kata Mereka Penjajah Disebut "Radikal - Muslim Fanatik", Tapi Bagi Bangsa Indonesia Merekalah Adalah "Pahlawan" berliannews - Para pejuang kemerdekaan Indonesia oleh PENJAJAH mereka dicap dengan sebutan "RADIKAL". Karena mereka berani melawan PENJAJAHAN. Tak seperti golongan lain yang "santun", manut, dan nrimo bahkan mau bekerjasama dengan KOLONIAL. Tapi kaum "RADIKAL" inilah adalah PAHLAWAN bangsa Indonesia yang mengusir penjajah dari tanah air tercinta. Begitu juga saat mempertahankan Kemerdekaan Indonesia yang hendak dijajah kembali oleh Belanda yang dikenal dengan Agresi Militer. Mereka yang MELAWAN dengan kekuatan seadanya namun YAKIN dengan PERTOLONGAN ALLAH, oleh kaum Penjajah kelompok ini dicap "MUSLIM FANATIK". Hari ini, 72 tahun lalu... Perlawanan dan pertempuran heroik di Surabaya 10 November 1945 dengan pekikan TAKBIR yang dipimpin Bung Tomo, oleh media barat dicap “Muslim Fanatics”. Demi...